Senin, 15 Februari 2010

[MANTAP]Desa pembuat gitar

Desa Baki, sebuah desa yang termasuk wilayah Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah, sudah sejak tahun 1970-an dikenal sebagai desa pembuat gitar. Industri rumahan berupa pembuatan alat musik gitar bermula dari dua orang warganya yang pulang kampung, setelah bekerja di negeri Matahari terbit Jepang pada tahun 70-an.
Dua orang inilah yang menjadi cikal bakal dikenalnya Desa Baki sebagai desa gitar. Konon ketika di Jepang, mereka berdua bekerja pada sebuah pabrik gitar. Tapi tak banyak yang mengenal secara pribadi dua orang tersebut, karena mereka kemudian hijrah ke Kota Solo.
Walau demikian, jejak ketrampilan mereka masih membekas. Kini hampir semua warga Desa Baki, mengandalkan pendapatannya dari kerajinan membuat gitar, atau alat musik lain yang sejenis. Seperti Selo, Kontrabas, Cuk, Rebab dan Mandolin.
Satu hal yang menonjol, warga desa bahu-membahu dalam mengerjakan pesanan, apalagi bila jumlahnya cukup banyak. Ada beberapa rumah yang secara khusus mengerjakan bagian pengadaan stang gitar. Sementara beberapa rumah lain membuat bagian tubuh gitar, dan sebagian lagi khusus melakukan tahap penyelesaian atau finishing. Jarang sekali pembuatan gitar dikerjakan sendiri dalam satu rumah. karena perlu modal besar dan jumlah tenaga kerja yang memadai.
Parto Widodo misalnya, yang baru memulai usaha rumahannya tahun 1994, khusus mengerjakan bagian bodi atau badan gitar. Tiap hari Parto harus merampungkan 6 lusin bodi gitar, untuk memenuhi target mingguan sebanyak 30 lusin, yang selanjutnya dirangkai dan dipoles di tempat lain oleh bagian finising.
Untuk kategori usaha rumahan, seperti yang dilakukan Parto, dibutuhkan modal sedikitnya 10 juta rupiah. Alokasi dana terbesar, untuk pembelian alat mesin potong dan penghalus papan, yang kebanyakan masih impor. Alatnya pun kadang masih harus disesuaikan di sana-sini menurut kebutuhan. Persoalan pokok yang dihadapi Parto dan para perajin gitar di Desa Baki, adalah bagaimana bisa bertahan sekaligus mengembalikan modal.
Baik buruknya kualitas gitar, antara lain ditentukan oleh jenis kayu yang dipakai. pilihan kayu ini akan berpengaruh besar terhadap bunyi gaung gitar. Sementara mutu lem perekat kayu tripleks untuk gitar, akan sangat mempengaruhi daya tahan kekuatannya. Setiap pengrajin punya ramuan lem sendiri. Jadi bisa dikatakan, ramuan lem merupakan rahasia masing-masing rumah produksi.
Harga bodi gitar ini, bervariasi antara 15 ribu hingga 25 ribu rupiah. bila sudah jadi, gitar keluaran Desa Baki bisa dijual dengan kisaran harga antara seratus ribu hingga 3 ratus ribu rupiah. Dikenal berkualitas baik, alat musik petik buatan Desa Baki ini merupakan pesanan dari berbagai toko alat musik di sejumlah kota seperti Solo, Jogja, Bandung dan Jakarta.
Beberapa kota besar di Kalimantan dan Sumatera juga turut memesan. Bahkan gitar produksi Desa Baki terbang sampai ke mancanegara. Pesanan dari Brunei Darussalam, Malaysia, dan Singapura dalam dua tahun terakhir terus mengalir.taraf hidup para pengrajin gitar ini bisa dibilang pas-pasan. Untuk membuat gitar, mereka kerap berhutang bahan mentah kepada sejumlah toko di kota. Harga pun tentu menjadi lebih mahal, dibandingkan jika bahan mentah bisa mereka peroleh dari alam sekitar.
Selain biaya produksi, pendapatan yang diperoleh pun, seperti Parto misalnya, masih harus digunakan untuk membayar 5 orang pekerja.Sungguh sayang memang. Keahlian membuat gitar, tak juga mengangkat ekonomi keluarga di Desa Baki ini. mereka tetap hidup pas-pasan.(Sup) ni gan ad beberapa gambarnya Namun ironisnya,
Spoiler for gitar:

Hebat ya gan pabrik rumahan gtu ternyata barangnya bisa diekspor sampe keluar negeri segala, tp sayangnya memang dukungan pemerintah agak kurang atau mungkin memang belum tahu ada usaha yang menjajikan seperti ini.



sumber :http://www.kaskus.us/showthread.php?t=3357894




Tidak ada komentar:

Posting Komentar